poto pernikahan
http://www.4shared.com/photo/vRbQnfbP/5_online.html
Senin, 12 November 2012
Photoshina
Photoshine adalah program yang digunakan untuk memberi bingkai pada gambar gambar... ya cukup praktis.
bingkai gambar yang cukup cantiiiik
http://www.4shared.com/rar/m6wqN0uF/Photoshine.html
bingkai gambar yang cukup cantiiiik
http://www.4shared.com/rar/m6wqN0uF/Photoshine.html
Rabu, 07 November 2012
PEDULI PROFESIONAL: puisi sahabat
PEDULI PROFESIONAL: puisi sahabathttp://ratna.wordpress.com/2006/05/11/puisi-untuk-sahabat/
puisi sahabat
sahabatku………
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat…..
seberapa jauhpun kau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu
dalam sebuah episode kehidupanmu
sahabatku……
alangkah indahnya bila kau temui ia dengan dada yang lapang
persilahkan ia masuk dalam bersihnya rumah hati
dan mengkilapnya lantai nuranimu
hadapi ia dengan senyum seterang mentari pagi
ajak ia untuk menikmati hangatnya teh kesabaran
ditambah sedikit penganan keteguhan
sahabat…….
dengan begitu
sepulangnya ia dari rumahmu
akan kau dapati
dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan
dan kau pun akan mampu dan lebih berani
untuk melewati lagi deraan kehidupan
dan yakinlah sahabat……..
kaupun akan semakin bisa bertahan
kala badai cobaan itu menghantam
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat…..
seberapa jauhpun kau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu
dalam sebuah episode kehidupanmu
sahabatku……
alangkah indahnya bila kau temui ia dengan dada yang lapang
persilahkan ia masuk dalam bersihnya rumah hati
dan mengkilapnya lantai nuranimu
hadapi ia dengan senyum seterang mentari pagi
ajak ia untuk menikmati hangatnya teh kesabaran
ditambah sedikit penganan keteguhan
sahabat…….
dengan begitu
sepulangnya ia dari rumahmu
akan kau dapati
dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan
dan kau pun akan mampu dan lebih berani
untuk melewati lagi deraan kehidupan
dan yakinlah sahabat……..
kaupun akan semakin bisa bertahan
kala badai cobaan itu menghantam
Comment by asep— 8 September 2006
puisi
Sahabatku……….!
Di dalam keremangan hidup ini,
aku berjalan mencari arti kehidupan
teringat aku padamu,
Di dalam keremangan hidup ini,
aku berjalan mencari arti kehidupan
teringat aku padamu,
Sahabatku……….!
Engkau yang selalu membantu
di dalam mencari arti kehidupan yang sebenarnya
tapi kini
dirimu tla jauh………dan terlalu jauh untuk ke jangkau
Engkau yang selalu membantu
di dalam mencari arti kehidupan yang sebenarnya
tapi kini
dirimu tla jauh………dan terlalu jauh untuk ke jangkau
Sahabatku……….!
kepergianmu dengan tiba-tiba
sangat ku sesali
mengapakah aku tak tahu ??
setelah aku tahu semuanya
engkau sudah tiada padaku lagi
Comment by daniel— 30 March 2011
kepergianmu dengan tiba-tiba
sangat ku sesali
mengapakah aku tak tahu ??
setelah aku tahu semuanya
engkau sudah tiada padaku lagi
Senin, 05 November 2012
ringkasan buku kecerdasan spiritual
KECERDASAN
SPIRITUAL
BAB
I SAAT KITA TERJANGKIT PENYAKIT SPIRITUAL
Arti dan makna kehidupan slama ini perlu hendaknya kita
renungkan kembali, sebagaiman dikatakan oleh Anders, pengusaha muda yang sukses
dari swedia. Ia bigitu kuatir memikirkan kondisi dunia dewasa ini, terutama
krisis lingkungan global dan terkoyaknya komunitas sosial di belahan dunia.
Krisis global sekarang ini sudah merambah setiap sudut kehidupan- mulai dari
kesehatan, mata pencarian, kualitas lingkungan, ekonomi, politik, bahkan krisis
moral, intelektual dan krisis spritual. Ia menyadari bahwa ia merasa ikut
bertanggung jawab hadapi masalah tersebut sehingga ia berkata,
“I
just know that I want to be part of solution. Not the problem.”
(saya hanya tahu
bahwa saya ingin menjadi bagian dari solusi.
Bukan menjadi
bagian dari masalah itu sendiri.”
Apa yang dikatakan Anders adalah benar adanya
bahwa kita semua mesti memiliki kesadaran diri baik sebagai bagian dari bangsa
atau sebagai diri sendiri akan kepekaan terhadap krisis ini yang kemudian ikut
memecahkannya.
Saat
ini manusia tidak tau lagi bagaimana
seharusnya mengenali diri sendiri dan menjalani kehidupan dunia ini
secara lebih bermakna. Kehendak hidup bermakna ini sekarang menjadi visi hidup
alternatif di tengah meluasnya masalah-masalah spiritual yang menjangkiti
manusia modern dewasa ini. Tanpa hidup bermakna, hidup kita akan mengalami
kegelisahan spiritual bahkan krisis spritual. Krisis spritual ini ditandai
dengan hidup tak bermakna.
Psikolog
terkemuka Carl Gustav Jung menyebut krisis spritual ini sebagai penyakit
eksistensial dimana eksistensi diri kita mengalami penyakit alienasi
(keterasingan diri), baik dari diri sendiri, lingkungan sosial, maupun
teralienasi dari Tuhannya. Bahkan ia mengatakan bahwa beberapa psikoneurosis
pada akhirnya harus dipahami sebagai ‘jiwa yang menderita” yang belum menemukan
maknanya. Masih banyak istilah lain untuk menggambarkan problem
psikologis-eksistensial-spritual dalam diri dewasa ini, seperti keterasingan
spiritual, krisis spritual, patologi spiritual, dan penyakit spritual, yang
semuanya menunjukkan terkoyaknya ruang spiritual dalam diri kita.
Mengapa
ruang spiritual dalam diri kita mengalami krisis yang luar biasa hebat ? Inilah
akar dari penyakit spiritual itu sendiri yakni kita tidak pernah mengisi ruang
spiritual kita dengan hal-hal yang baik, dalam kehidupan kita. Justru
sebaliknya kita terbiasa mengisinya dengan hal-hal yang bururk yang menjadikan
ekspresi kehidupan kita tampak ekstrem dan bringas.
Maka
logika sederhananya, jika kita ingin mengalami kesehatan secara spiritual,
sudah sewajarnya kita menjalani kehidupan ini dengan mengambil pusat spiritual
yang ada dalam diri kita yakni hati. Dengan menjadikan hati (nurani) standar
autentik dalam menjalani kehidupan ini,
arah perjalanan hidup kita menjadi terarah dengan baik dan benar di tengah
semakin gelapnya kehidupan di dunia fana ini.
Karena
itu, kita perlu menghidupkan kembali dan sekaligus berkiblat ke hati nurani
sebagai standar moral autentik untuk menilai keautentikan diri, paling tidak
terhadap diri sendiri. Kita bisa saja berbohong kepada seama, bahkan kepada
rakyat sekalipun. Tetapi, tidak sama sekali terhadap hati nurani kita.
Menurut
Prof. Sachiko Murata (USA) dalam karya terbaik dan mutakhirnya, Chinese Gleams
of Sufi Light, “barang siapa ingin memerintah suatu negeri, terlebih dahulu
harus mengatur keluarganya secara benar (“keluarga demokratis”). Dan barang
siapa yang ingin mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, terlebih
dahulu harus mengatur dirinya sendiri dengan benar. Serta barang siapa ingin
mengatur dirinya sendiri dengan benar, terlebih dahulu harus membuat hatinya
menjadi benar. Cara pandang baru ini menggunakan paradigma perubahan “dari
dalam” menuju keluar bukan dari “ luar ke dalam”. Hal ini seperti juga
diungkapkan James Refield (penulis best
seller internasional) : “to change the world, we first have to change
ourselves” (untuk mengubah dunia, kita harus terlebih dahulu mengubah diri
kita).
Tuhan
berada dalam hati orang – orang yang suci. Yang membedakan baik buruknya
seseorang adalah ahtinya. Untuk mengerti sifat – sifat Tuhan, maka harus ada
kesucian di hati kita. Seseorang yang melihat Tuhan, akan melihat-Nya tanpa
mata, akan mendengar-Nya tanpa telinga, akan merasakan-Nya tanpa alat perasa,
dan akan memahami-Nya tanpa penalaran. Hanya dengan hati sajalah orang dapat
melihat dengan tepat, apa yang hakiki tidak tertangkap oleh mata. Hal ini bisa
kita asumsikan bahwa hati nurani merupakan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan
spiritual dibutuhkan untuk mendidik hati dan budi pekerti. Kecerdasan spiritual membimbing kita untuk
mendidik hati menjadi benar. Manusia spiritual adalah buah dari produk
kecerdasan spiritual yang sukses membimbing hati manusia menjadi benar dan
bercahaya., sehingga meujud dalam prilaku arif dan bijak dalam kehidupan sehari
– hari.
BAB II PEMETAAN PARADIGMA KECERDASAN
: IQ, EQ, DAN SQ
Selama
ini kita hanya diperkenalkan dengan IQ sebagai standar pertama dan utama
kecerdasan kita. Semakin tinggi tes IQ kita, umumnya kita dikatakan memiliki
kualitas kecerdasan intelektual yang tinggi, dan sebaliknya. Persepsi dan citra
dari kalangan masyarakat luas pun menyatakan bahwa orang yang ber-IQ tinggi
akan akan mempunyai masa depan yang lebih cemerlang dan menjanjikan. Sampai –
sampai ada paradigma di masayarakat bahwa ber- IQ tinggi menjamin kesuksesan
hidup; sebaliknya, ber-IQ sedang – sedang saja, apalagi rendah, akan suram masa
depannya.
Benarkah IQ menjadi kunci kecerdasan
untuk meraih masa depan dan sekaligus satu – satunyanparameter kesuksesan hidup
? Tidak ! inilah jawaban tegas yang dari Daniel Goleman. Sejak dipublikasikannya
Emotion Intelligennce (EQ) tahun 1995, temuan terbaru Goleman ini lebih dari
cukup untuk berkesimpulan mengapa orang ber-IQ tinggi gagal dan orang yang
ber-IQ sedang – sedang justru menjadi sukses. Pasti ada faktor lain untuk
menjadi cerdas, yang kemudian dipopulerkan Goleman dengan “keceerdasab
emotional” (EQ).
Menurut Goleman, setingginya IQ
hanya menyumbang kira – kira 20 persen bagi faktor – faktor yang menentukan
sukses dalam hidup, sementara yang 80 persen diisi oleh faktor – faktor
kecerdasan lain. Menurutnya kecerdasan emosional (EQ) : kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi ; mengendalikan
dorongan hati, dan tidak melebih – lebihkan kesenangan ; mengatur suasana hati
dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati,
dan berdoa.
Saat ini, semakin ramai didiskusikan
orang dan jauh lebih komprehensif dengan temuan riset terbaru yakni “Spiritual Intelligence” ( Spiritual
Question, SQ, kecerdasan spiritual ). SQ adalah parameter kecerdasan spiritual.
Artinya, segi dan ruang spiritual kita bisa memancarkan cahaya spiritual dalam
bentuk kecerdasan spiritual. Dari sudut pandang psikologi, ruang spiritual memiliki arti kecerdasan. Logikanya
: di antara kita bisa saja ada orang yang tidak cerdas secara spiritual, dengan
ekspresi keberagamannya yang monolitik, ekslusif, dan intoleran, yang sering
kali berakibat pada kobaran konflik atas nama agama. Dan sebaliknya, bisa juga
ada orang yang cerdas secara spiritual sejauh orang tersebut memiliki
kesadaran, dengan sikap jujur dan terbuka, inklusif, dan bahkan pluralis dalam
beragama di tengah pluralitas agama.
Belakangan ini, riset SQ memang
sedang ramai – ramainya, terutama pada penerbitan buku – buku psikologi
spiritual yang lumayan membantu kita meningkatkan kecerdasan spiritual dalam
diri kita. Beberapa contoh buku tentang kecerdasan spiritual, antara lain :
SQ,
Spiritual Intellegence, The Ultimate
Intellegence karya Danah Zohar dan Ian Marshall.
Spritual
Intellegence, Awakening The Power of Your Spirituality and Intuition karya Michael Levin.
Spiritual
Intellegence : A practical Guide to Personal Happiness karya Prof. Dr. Khalil A.
Khavari.
Spiritual
Intellegence Handbook karya Paul Edward.
Spiritual Intellegence : What We
Can Learn from the Early Awekening Child karya Dr Marsha Sinetar.
Spiritual
Intellegence : How It Can Transform Your Life karya
Dr. Hendry Wild.
Spiritual
Intellegence karya Richard Wolman.
Spiritual
Intellegence : A Special Issue of International Journal for the Psycholocy of
Religion karya Raymond F Palouttzion.
Kehadiran buku – buku kecerdasan spiritual perlu kita
sambut dengan gembira. Tapi, kenapa buku – buku SQ ini malah lahir di Dunia
Barat yang sekuler? Yang justru dipelopori oleh orang – orang sekuler barat
bukan tokoh dan pakar agama. Ini menandakan suatu turning point, dimana pada saat perkembangan psikologi manusia
sedang cenderung mengarah ke suatu yang serba sekuler dan material, terjadilah
arus balik ( turning point ) ke arah
psikologi ketuhanan, yang tak lain dan tak bukan adalah psikologi kecerdasan spiritual
itu sendiri, yang lebih berkiblat pada kerohanian sebagai hatinya psikologi.
Bagaiman halnya dengan struktur kecerdasan dalam
perspektif psikologi spiritual saat ini? Sadar atau tidak, potensi kecerdasan
intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) itu ada dalam diri kita
sebagai manusia. IQ berada di wilayah otak (brain)
kita, yang karenanya terkait dengan kecerdasan otak, rasio, nalar –
intelektual. EQ mengambil wilayah di sekitar emosi diri kita, yang karenanya
lebih mengembangkan emosi supaya menjadi cerdas, tidak cenderung marah.
Sedangkan, SQ mengambil tempat di seputar jiwa, hati ( yang merupakan wilayah
spirit ) yang karenanya dikenal sebagai the
soul’s intelligence, kecerdasan jiwa, hati, yang menjadi hakikat sejati
kecerdasan spiritual. Struktur kecerdasan antara IQ, EQ, dan SQ itu sendiri
dapat diringkas dalam model struktur kecerdasan seperti tergambar di bawah ini.
Struktur Kecerdasan :
IQ, EQ, SQ
|
No
|
Perspektif
|
Jenis Kecerdasan
|
||
|
IQ
|
EQ
|
SQ
|
||
|
1
|
Psikologi
modern
|
Otak
(mind)
|
Emosi
(body)
|
Jiwa
(soul)
|
|
2
|
Model
Berpikir
|
Seri
|
Asosiatif
|
Intuitif
|
|
3
|
Al-Qur’an
|
‘Aql
|
Nafs
|
Qalb
|
|
4
|
Kebahagiaan
|
Material
|
Instingtif
|
Rohaniah
|
|
5
|
Produk
kecerdasan
|
Rasional
|
Emosional
|
Spiritual
|
BAB III KEUNGGULAN KECERDASAN SPIRITUAL
(SQ)
Menurut Daniel Goleman (ahli
psikologi Harvard University) ada 6
alasan kenapa SQ lebih penting daripada IQ dan EQ, yakni :
1. Segi
perenial SQ
2. Mind-body-soul
3. Kesehatan
spiritual
4. Kedamaian
spiritual
5. Kebahagiaan
spiritual
6. Kearifan
spiritual
Berikut
ini bisa dijelaskan 6 alasan tersebut.
1. Segi
Perenial SQ
SQ mampu
mengungkap segi perenial ( yang abadi, yang asasi, yang spiritual, yang fitrah
) dalam struktur kecerdasan manusia. SQ adalah pondasi yang diperlukan untuk
memfungsikan IQ dan SQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan
tertinggi kita.
2.
Mind
- Body – Soul
Para ilmuwan
sepakat bahwa manusia, disamping terdiri atas pikiran (mind) dan badan – tubuh (body),
juga menjadi “ada” dan “hidup” karena ada faktor kunci yaitu soul (jiwa,spirit,roh)
3. Kesehatan
Spiritual
SQ bukan saja
menyentuh segi spiritual kita, melainkan lebih dari itu : menyajikan beragam
resep, mulai dari pengalaman spiritual sampai penyembuhan spiritual, sehingga
kita benar – benar mengalami kesehatan spiritual. Hal ini sebagai jawaban atas penyakit jiwa – spiritual yang saat ini
banyak diderita manusia modern yang tidak bisa diperoleh dari IQ dan EQ.
4. Kedamaian
Spiritual
SQ membimbing
kita untuk memperoleh kedamaian spiritual. Inilah kedamaian hakiki dalam hidup
kita, yang tentu saja tidak diperoleh melalui IQ maupun EQ. Sehingga SQ
merupakan jalan untuk meraih kedamaian spiritual.
5. Kebahgiaan
Spiritual
Kebahagiaan
sejati justru terletak pada kebahagiaan spiritual : suatu kebahagiaan yang
membuat hati dan jiwa kita menjadi bahagia, tentram, dan penuh kedamaian.
Karena selama ini IQ dan EQ tidak hanya cenderung memenuhi segi kepuasan dan
emosional saja, tapi juga berlanjut pada keinginan besar untuk mengejar
kepuasan material (uang, kerja, jabatan) dan nafsu emosional.
6. Kearifan
Spiritual
Kearifan spiritual
adalah sikap hidup arif dan bijak secara spiritual. Spiritual itu tak lain dan
tak bukan adalah kebenaran, kedamaian, kesucian, kasih, kebahagiaan, kekuatan,
dan kearifan di dalam kehidupan.
Danah Zohar dan
Ian Marshall memberikan 8 elemen untuk menguji secara awal sejauh mana
kecerdasan spiritual kita. Barometer kepribadian yang dipakai meliputi :
1) Kapasitas
diri untuk bersikap fleksibel, seperti aktif dan adaptifsecara spontan.
2) Level
kesadaran diri yang tinggi.
3) Kapasitas
diri untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
4) Kualitas
hidup yang terinspirasi dengan visi dan nilai – nilai.
5) Keengganan
untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
6) Memiliki
cara pandang yang holistik, dengan memiliki kecenderungan untuk melihat
keterkaitan di antara segala sesuatu yang berbeda.
7) Memiliki
kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaiman jika” dan cenderung
untuk mencari jawaban – jawaban yang fundamental (prinsip, mendasar)
8) Memiliki
kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
Selain itu, Prof. Khalil A. Khavari juga
memberikan rumusan tes untuk menguji kecerdasan spiritual. Menurut Khavari,
test kecerdasan spiritualnya ini tidak mendefenisikan secara sempurna kualitas
SQ, tapi paling tidak dapat membantu kita untuk mendapatkan pegangan lebih baik
mengenai tes SQ itu sendiri. Jika nilai total yang diperoleh mencapai seratus,
menandakan memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang luar biasa.
Daftar
Pertanyaan Tes SQ
|
No
|
Daftar Pertanyaan
|
Nilai
|
|
1
|
|
|
|
2
|
|
|
|
3
|
|
|
|
4
|
|
|
|
5
|
|
|
|
6
|
|
|
|
7
|
|
|
|
8
|
|
|
|
9
|
|
|
|
10
|
|
|
|
11
|
|
|
|
12
|
|
|
|
1
|
|
|
|
31
|
|
|
|
4
|
|
|
|
15
|
|
|
|
16
|
|
|
|
17
|
|
|
|
18
|
|
|
|
19
|
|
|
|
20
|
|
|
|
21
|
|
|
|
22
|
|
|
|
23
|
|
|
|
24
|
|
|
|
25
|
|
|
Keterangan
: 1≤ nilai ≤ 4 dengan
4 = selalu
3 = sering
2 = kadang-kadang
1 = tidak pernah
Tes SQ ini, jika
kita amati secara cermat ada 3 alasan yang menjadikannnya luar biasa yakni :
a) Dari
sudut pandang spiritual-keagamaan, tes itu merepresentasikan sejauh manakah
tingkat relasi spiritual kita dengan Tuhan
b) Dari
sudut pandang relasi sosial-keagamaan, tes di atas menggambarkan potret
sosial-keagamaan kecerdasan spiritual artinya kecerdasan spiritual harus
terefleksikan pada sikap-sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan
kesejahteraan sosial
c) Dari
sudut pandang etika-sosial, tes tersebut juga dapat menggambarkan tingkat etika
sosial kita sebagai cermin kadar kualitas kecerdasan spiritual.
Kita dapat
menajamkan kecerdasan spiritual kita dengan asumsi dasar bahwa potensi
spiritual sudah hadir dan bersemayam dalam diri kita, setiap manusia, apapun
agama dan identitasnya. Hadis Nabi Muhammad SAW
intinya menyatakan bahwa” setiap anak dilahirkan fitrah (suci)”. Banyak
cara untuk menajamkan SQ, tapi semuanya tergantung pada “siapa kita”. Mari kita
lihat beberapa kategori berikut :
a. Kategori
agamawan
SQ lebih tinggi bisa
didapatkan jika penghayatan terhadap agama lebih dalam lagi ke esensinya, ke
spiritualnya. Semuanya ini akan melahirkan sikap hidup terbuka, toleran,
inklusif, bahkan pluralis.
b.
Katagori Pendidik
Pendidikan
spiritual yang dapat menajamkan kualitas kecerdasan spiritual, baik terhadap
diri kita sebagai pendidik maupun peserta didik, adalah nilai-nilai spiritual
itu yang diterapkan dalam pendidikan kita melaui sikap keteladanan dalam
mengajatkan pendidikan spiritual. Nilai-nilai yang dimaksud adalah kejujuran,
keadialn, kebajikan, kebersamaan, kesetiakawanan sosial, dll.
c.
Kategori anak
Potensi
dan bakat kecerdasan spiritual dimilki oleh anak sejak usia dini. Potensi –
potensi pembawaan spiritual pada anak-anak seperti keberanian, optimisme,
keimanan, empati, sikap memaafkan, dan bahkan ketangkasan dalam menghadapi
amarah dan bahaya.
Anak-anak
yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, dicirikan sebagai berikut :
1.
Kesadaran diri yang mendalam, intuisi,
dan kekuatan “keakuan”
2.
Pandangan luas terhadap dunia
3.
Moral tinggi, pendapat yang kokoh, dan
kecenderungan untuk merasa gembira
4.
Pemahaman tentang tujuan hidupnya
5.
“Kelaparan yang tak dapat dipuaskan”
akan hal-hal tertentu yang diminati
6.
Gagasan-gahasan segar dan aneh ; rasa
humor yang dewasa
7.
Pandangan pragmatis dan efisien tentas
realitas
d.
Kategori Aktivis
Sebagai
aktivis, SQ dapat kita tajamkan melalui “ketulusan niat suci” dan “hati yang
tulus” untuk melakukan kritik sosial, keagamaaan, dan politik. SQ ini sendiri
berporos pada dua misi suci yaitu tindakan kemanusiaan sebagai refleksi dan
pantulan misi ketuhanan.
e.
Kategori Pengusaha
Menjadi
cerdas secara spiritual dalam kesuksesan di dunia bisnis, mutlak dengan
mengamalkan nilai-nilai mistik-spiritual SQ. Dalam sebuah tesis The Corporate Mystics oleh Hendricks dan
Kate Ludeman mengamalkan 12 karakteristik penting bagi pemimpin yang sukses di
abad ke-21 di dunia bisnis dan perusahaan besar, yang 5 di antarnya adalah :
1) mutlak
jujur
2) Keterbukaan
3) Pengetahuan
diri
4) Fokus
pada kontribusi
5) Spiritualitas
non-dogmatis
f.
Kategori Politik
Untuk
menajamkan SQ di kalangan politisi adalah dengan menjadikan Spritual Politics sebagai panduan untuk menjalani politik secara santun dan
beradab. Selain itu dengan menerapkan politik yang tidak membunuh, yang sarat
cinta kasih, kejujuran, koordinasi, lebih santun, dan beradab.
g.
Kategori Lain
Jika
kita berada di luar kategori-kategori di atas, SQ bisa ditajamkan dengan
senantiasa berpijak pada nilai moral-spiritual-kemanusiaan sebagai pengarah
nilai. Serta menjadikan daftar kebajikan sebagai panduan untuk menjalani apapun
profesi kita, sejauh berada pada koridor nilai moral-spiritual-kemanusiaan yang
benar dan beradab.
Menurut
Sukidi, staf pengajar di Paramadina, memberikan langkah-langkah untuk mengasah
dan meningkatkan SQ agar mencapai derjat yang tinggi, yaitu :
·
Kenalilah diri sendiri
·
Lakukan instropeksi diri
·
Aktifkan hati secara rutin
·
Temukan keharmonisan dan ketenangan
hidup
BAB
IV KECERDASAN SPIRITUAL : RAHASIA SUKSES HIDUP BAHAGIA
Faktor-faktor apa saja
yang menjadikan hidup kita menjadi lebih bahagia dan lebih bermakna ?
Kebahagiaan model apa saja yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini ? Sudahkah
selama ini kita merasa bahagia dalam
menjalani kehidupan di dunia ini ? Itulah beberapa pertanyaan besar yang
menyelimuti kehidupan dewasa ini di tengah kegersangan dan kegalauan hidup di
dunia modern. Hanya dengan SQ membimbing kita untuk meraih kebahagiaan hidup
hakiki yang merupakan tujuan hidup.
Dalai Lama, peraih nobel perdamaian dan dikenal di dunia sebagai pendekar
spiritual sejati dari Tibet memaparkan fenomena saat ini, menurut Lama,
“Kini
ada masyarakat yang secara materi sangat maju, tetapi di antara mereka banyak
orang yang sangat tidak bahagia. Di balik permukaan yang di luar permukaan
tampak indah itu, semacam ada pergolakan mental, yang membuat mereka frustasi,
menyulut pertengkaran yang tidak perlu, ketergantungan pada obat dan alkohol,
dan yang paling buruk bunuh diri. Maka tidak ada jaminan bahwa kekayaan saja
dapat memberi Anda kebahagiaan…”
Agar kita dapat mengoptimalkan secara maksimal ke
arah sasaran sejati hidup bahagia, kecerdasan spiritual menyingkap rahasia
sukses meraih hidup bahagia yang lebih hakiki dan spiritual. Survei, statistik,
dan studi ilmiah di atas sudah lebih dari cukup untuk berkesimpulan bahwa
kecerdasan spiritual ternyata menghasilkan orang-orang spiritual yang tidak
saja tangguh dan cakap dalam ujian hidup, melainkan juga dapat meraih sukses
hidup bahagia dengan itu.
“Banyak studi telah menemukan
bahwa selain membuat orang merasa sejahtera, iman yang teguh tampaknya juga
memudahkan orang mengatasi masalahnya secara lebih efektif, misalnya masalah
usia lanjut, krisis kepribadian, atau peristiwa-peristiwa traumatik.”
“Selain itu, statistik menunjukkan
bahwa keluarga-keluarga dengan keyakinan agama yang kuat sering mempunyai
peringkat lebih rendah dalam kasus-kasus kenakalan remaja, penyalahgunaan
alkohol dan obat, dan keributan rumah tangga.”
“Ada pula bukti yang menunjukkkan
bahwa iman keagamaan bisa bermanfaat bagi kesehatan manusia- bahkan mereka yang
menderita penyakit serius.”
“Sesungguhnyalah, ada ratusan
studi ilmiah dan epidemiologi yang mengukuhkan hubungan antara iman yang kuat,
rendahnya angka kematian, dan meningkatnya kesehatan.”
“Dalam sebuah studi, wanita usia
lanjut dengan kepercayaan keagamaan yang kuat mampu berjalan lebih jauh sehabis
operasi pinggul dibanding mereka yang tidak atau kurang beriman, dan mereka
juga tidak begitu menderita sesuai operasi.”
“Dalam sebuah studi lain, yang
dilakukan oleh Dr.Thomas Oxman dan para sejawatnya di Dartmouth Medical School,
ada penemuan bahwa pasien-pasien dengan usia lebih lima puluh tahun yang
menjalani operasi bypass jantung
akibat tersumbatnya arteri koroner atau kerusakan katup jantung dan berlindung
dalam keyakinan keagamaan tiga kali lebih mungkin bertahan hidup dibanding
denganmereka yang kurang takwa.”
Survei, statistik, dan
studi ilmiah di atas sudah lebih dari cukup untuk berkesimpulan bahwa
kecerdasan spiritual ternyata menghasilkan orang-orang spiritual yang tidak
saja tangguh dan cakap dalam ujian hidup, melainkan juga dapat meraih sukses
hidup bahagia dengan itu.
Ada 3 kunci praktis
dalam meraih sukses hidup bahagia secara spiritual yaitu :
1.
Love
(Cinta)
Cinta
dalah perasaan yang lebih menekankan kepekaan emosi dan sekaligus menjadi
energi kehidupan. Menurut Prof. Khalil A. Khavari menafsirkan energi cinta ke
dalam dua aliran : positive love
(cinta positif) dan negative love
(cinta negatif). “Cinta positif” mengalir secra konstruktif dan dipersembahkan
untuk kebajikan. Sementara “cinta negatif’ berlangsung secara destruktif dan
diinventarisasikan pada kerja-kerja buruk.
Lebih
lanjut Khavari mengelompokkan cinta menjadi 7 kategori yakni cinta diri
sendiri, cinta rakyat, cinta pada situasi dan kondisi, cinta pada sesuatu,
cinta pada binatang, cinta pada penciptaan, dan cinta pada Tuhan. Dan menurut
John Powel dalam The Secret of Staying in
Love meneguhkan pandangan di atas dengan rumusannya yang sangat menarik,
“Perjalanan menuju cinta adalah
perjalanan menuju hidup penuh bahagia. Sebab, hanya orang yang mengalami cinta
mengenali sendiri; dapat mencintai dirinya sebagaimana adanya kini dan pada
masa mendatang, dapat menemukan kepenuhan hidup yang merupakan keluhuran Tuhan.
Sebab Tuhan adalah cinta, maka hanya dengan cinta orang dapat menemukan alasan
untuk hidup bahagia selama-lamanya.”
Jadi kunci
kecerdasan spiritual untuk meraih kebahagiaan spiritula didasarkan pada cinta
kepada Sang Pencipta. Cinta kepada Tuahn akan menjadikan hidup kita bermakna
dan bahagia secar spiritual terutama bagi pecinta.
2. Prayer
(Doa)
Doa merupakan
bentuk komunikasi spiritual ke hadirat Tuhan. Karena itu manfaat terbesar doa
terletak pada penguatan cinta ke hadirat Tuhan dengan jalan doa. Kekuatan
spiritual itulah yang antara lain terletak pada kekuatan doa. Maka kemudian,
secara luas dipakai dalam praktek penyembuhan spiritual, yang terbukti memiliki
manfaat sebagai :
a. Doa
dapat mempertinggi sistem kekebalan tubuh
b. Doa
bisa meringankan sakit, sekaligus mencegah penyakit dari sakit yang lebih
berat.
c. Doa
meningkatkan seseorang untuk melatih keberanian
d. Doa
memperkaya horizon sesesorang sehingga mampu melampaui penderitaan darurat,
menuju masa depan yang bebas dari beban psikis dan penderitaan.
Prof. Khavari
juga memilah tingkatan doa yang jauh berkualitas dalam meraih hidup bahagia
secara spiritual, yaitu :
a. Doa
sebagai ungkapan rasa syukur dan kepuasan hati
b. Doa
sebagai proteksi, terutama proteksi diri kita dari segala membuat kita jatuh
pada titik kemanusiaan terendah
c. Doa
untuk yang lain. Karena kita adalah makhluk spiritual yang berhubungan dengan
yang lain karena semata-mata didasarkan pada ikatan spiritual.
3. Virtues
(Kebajikan)
|
No
|
Daftar
Kebajikan Sebagai Petunjuk
|
|
1
|
Bersikap
Tegas
|
|
2
|
Bersikap
hati- Hati
|
|
3
|
Kebersihan
|
|
4
|
Terharu
|
|
5
|
Memiliki
Percaya Diri
|
|
6
|
Penuh
Pertimbangan
|
|
7
|
|
|
8
|
|
|
9
|
|
|
10
|
|
|
11
|
|
|
12
|
|
|
13
|
|
|
14
|
|
|
15
|
|
|
16
|
|
|
17
|
|
|
18
|
|
|
19
|
|
|
20
|
|
|
21
|
|
|
22
|
|
|
23
|
|
|
24
|
|
|
25
|
|
|
26
|
|
|
27
|
|
|
28
|
|
|
29
|
|
|
30
|
|
|
31
|
|
|
32
|
|
|
33
|
|
|
34
|
|
|
35
|
|
|
36
|
|
|
37
|
|
|
38
|
|
|
39
|
|
|
40
|
|
|
41
|
|
|
42
|
|
|
43
|
|
|
44
|
|
|
45
|
|
|
46
|
|
|
47
|
|
|
48
|
|
|
49
|
|
|
50
|
|
|
51
|
|
Langganan:
Postingan (Atom)
