Rabu, 07 November 2012

PEDULI PROFESIONAL: puisi sahabat

PEDULI PROFESIONAL: puisi sahabathttp://ratna.wordpress.com/2006/05/11/puisi-untuk-sahabat/

puisi sahabat


sahabatku………
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya
karena sahabat…..
seberapa jauhpun kau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu
dalam sebuah episode kehidupanmu
sahabatku……
alangkah indahnya bila kau temui ia dengan dada yang lapang
persilahkan ia masuk dalam bersihnya rumah hati
dan mengkilapnya lantai nuranimu
hadapi ia dengan senyum seterang mentari pagi
ajak ia untuk menikmati hangatnya teh kesabaran
ditambah sedikit penganan keteguhan
sahabat…….
dengan begitu
sepulangnya ia dari rumahmu
akan kau dapati
dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan
dan kau pun akan mampu dan lebih berani
untuk melewati lagi deraan kehidupan
dan yakinlah sahabat……..
kaupun akan semakin bisa bertahan
kala badai cobaan itu menghantam

puisi

Sahabatku……….!
Di dalam keremangan hidup ini,
aku berjalan mencari arti kehidupan
teringat aku padamu,
Sahabatku……….!
Engkau yang selalu membantu
di dalam mencari arti kehidupan yang sebenarnya
tapi kini
dirimu tla jauh………dan terlalu jauh untuk ke jangkau
Sahabatku……….!
kepergianmu dengan tiba-tiba
sangat ku sesali
mengapakah aku tak tahu ??
setelah aku tahu semuanya
engkau sudah tiada padaku lagi
Comment by daniel— 30 March 2011

Senin, 05 November 2012

psikologi abnormal

http://www.ziddu.com/download/20804481/PSIKOLOGIABNORMAL.ppt.html

poto kami


ringkasan buku kecerdasan spiritual


KECERDASAN SPIRITUAL

BAB I SAAT KITA TERJANGKIT PENYAKIT SPIRITUAL
Arti dan makna  kehidupan slama ini perlu hendaknya kita renungkan kembali, sebagaiman dikatakan oleh Anders, pengusaha muda yang sukses dari swedia. Ia bigitu kuatir memikirkan kondisi dunia dewasa ini, terutama krisis lingkungan global dan terkoyaknya komunitas sosial di belahan dunia. Krisis global sekarang ini sudah merambah setiap sudut kehidupan- mulai dari kesehatan, mata pencarian, kualitas lingkungan, ekonomi, politik, bahkan krisis moral, intelektual dan krisis spritual. Ia menyadari bahwa ia merasa ikut bertanggung jawab hadapi masalah tersebut sehingga ia berkata,
“I just know that I want to be part of solution. Not the problem.”
(saya hanya tahu bahwa saya ingin menjadi bagian dari solusi.
Bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri.”
   Apa yang dikatakan Anders adalah benar adanya bahwa kita semua mesti memiliki kesadaran diri baik sebagai bagian dari bangsa atau sebagai diri sendiri akan kepekaan terhadap krisis ini yang kemudian ikut memecahkannya.
Saat ini manusia tidak tau lagi bagaimana  seharusnya mengenali diri sendiri dan menjalani kehidupan dunia ini secara lebih bermakna. Kehendak hidup bermakna ini sekarang menjadi visi hidup alternatif di tengah meluasnya masalah-masalah spiritual yang menjangkiti manusia modern dewasa ini. Tanpa hidup bermakna, hidup kita akan mengalami kegelisahan spiritual bahkan krisis spritual. Krisis spritual ini ditandai dengan hidup tak bermakna.
Psikolog terkemuka Carl Gustav Jung menyebut krisis spritual ini sebagai penyakit eksistensial dimana eksistensi diri kita mengalami penyakit alienasi (keterasingan diri), baik dari diri sendiri, lingkungan sosial, maupun teralienasi dari Tuhannya. Bahkan ia mengatakan bahwa beberapa psikoneurosis pada akhirnya harus dipahami sebagai ‘jiwa yang menderita” yang belum menemukan maknanya. Masih banyak istilah lain untuk menggambarkan problem psikologis-eksistensial-spritual dalam diri dewasa ini, seperti keterasingan spiritual, krisis spritual, patologi spiritual, dan penyakit spritual, yang semuanya menunjukkan terkoyaknya ruang spiritual dalam diri kita.
Mengapa ruang spiritual dalam diri kita mengalami krisis yang luar biasa hebat ? Inilah akar dari penyakit spiritual itu sendiri yakni kita tidak pernah mengisi ruang spiritual kita dengan hal-hal yang baik, dalam kehidupan kita. Justru sebaliknya kita terbiasa mengisinya dengan hal-hal yang bururk yang menjadikan ekspresi kehidupan kita tampak ekstrem dan bringas.
Maka logika sederhananya, jika kita ingin mengalami kesehatan secara spiritual, sudah sewajarnya kita menjalani kehidupan ini dengan mengambil pusat spiritual yang ada dalam diri kita yakni hati. Dengan menjadikan hati (nurani) standar autentik  dalam menjalani kehidupan ini, arah perjalanan hidup kita menjadi terarah dengan baik dan benar di tengah semakin gelapnya kehidupan di dunia fana ini.
Karena itu, kita perlu menghidupkan kembali dan sekaligus berkiblat ke hati nurani sebagai standar moral autentik untuk menilai keautentikan diri, paling tidak terhadap diri sendiri. Kita bisa saja berbohong kepada seama, bahkan kepada rakyat sekalipun. Tetapi, tidak sama sekali terhadap hati nurani kita.
Menurut Prof. Sachiko Murata (USA) dalam karya terbaik dan mutakhirnya, Chinese Gleams of Sufi Light, “barang siapa ingin memerintah suatu negeri, terlebih dahulu harus mengatur keluarganya secara benar (“keluarga demokratis”). Dan barang siapa yang ingin mengatur keluarganya secara benar dan demokratis, terlebih dahulu harus mengatur dirinya sendiri dengan benar. Serta barang siapa ingin mengatur dirinya sendiri dengan benar, terlebih dahulu harus membuat hatinya menjadi benar. Cara pandang baru ini menggunakan paradigma perubahan “dari dalam” menuju keluar bukan dari “ luar ke dalam”. Hal ini seperti juga diungkapkan James Refield (penulis best seller internasional) : “to change the world, we first have to change ourselves” (untuk mengubah dunia, kita harus terlebih dahulu mengubah diri kita).
Tuhan berada dalam hati orang – orang yang suci. Yang membedakan baik buruknya seseorang adalah ahtinya. Untuk mengerti sifat – sifat Tuhan, maka harus ada kesucian di hati kita. Seseorang yang melihat Tuhan, akan melihat-Nya tanpa mata, akan mendengar-Nya tanpa telinga, akan merasakan-Nya tanpa alat perasa, dan akan memahami-Nya tanpa penalaran. Hanya dengan hati sajalah orang dapat melihat dengan tepat, apa yang hakiki tidak tertangkap oleh mata. Hal ini bisa kita asumsikan bahwa hati nurani merupakan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual dibutuhkan untuk mendidik hati dan budi pekerti.  Kecerdasan spiritual membimbing kita untuk mendidik hati menjadi benar. Manusia spiritual adalah buah dari produk kecerdasan spiritual yang sukses membimbing hati manusia menjadi benar dan bercahaya., sehingga meujud dalam prilaku arif dan bijak dalam kehidupan sehari – hari.

BAB II PEMETAAN PARADIGMA KECERDASAN : IQ, EQ, DAN SQ
            Selama ini kita hanya diperkenalkan dengan IQ sebagai standar pertama dan utama kecerdasan kita. Semakin tinggi tes IQ kita, umumnya kita dikatakan memiliki kualitas kecerdasan intelektual yang tinggi, dan sebaliknya. Persepsi dan citra dari kalangan masyarakat luas pun menyatakan bahwa orang yang ber-IQ tinggi akan akan mempunyai masa depan yang lebih cemerlang dan menjanjikan. Sampai – sampai ada paradigma di masayarakat bahwa ber- IQ tinggi menjamin kesuksesan hidup; sebaliknya, ber-IQ sedang – sedang saja, apalagi rendah, akan suram masa depannya.
            Benarkah IQ menjadi kunci kecerdasan untuk meraih masa depan dan sekaligus satu – satunyanparameter kesuksesan hidup ? Tidak ! inilah jawaban tegas yang dari Daniel Goleman. Sejak dipublikasikannya Emotion Intelligennce (EQ) tahun 1995, temuan terbaru Goleman ini lebih dari cukup untuk berkesimpulan mengapa orang ber-IQ tinggi gagal dan orang yang ber-IQ sedang – sedang justru menjadi sukses. Pasti ada faktor lain untuk menjadi cerdas, yang kemudian dipopulerkan Goleman dengan “keceerdasab emotional” (EQ).
            Menurut Goleman, setingginya IQ hanya menyumbang kira – kira 20 persen bagi faktor – faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sementara yang 80 persen diisi oleh faktor – faktor kecerdasan lain. Menurutnya kecerdasan emosional (EQ) : kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi ; mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih – lebihkan kesenangan ; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa.
            Saat ini, semakin ramai didiskusikan orang dan jauh lebih komprehensif dengan temuan riset terbaru yakni “Spiritual Intelligence” ( Spiritual Question, SQ, kecerdasan spiritual ). SQ adalah parameter kecerdasan spiritual. Artinya, segi dan ruang spiritual kita bisa memancarkan cahaya spiritual dalam bentuk kecerdasan spiritual. Dari sudut pandang psikologi, ruang  spiritual memiliki arti kecerdasan. Logikanya : di antara kita bisa saja ada orang yang tidak cerdas secara spiritual, dengan ekspresi keberagamannya yang monolitik, ekslusif, dan intoleran, yang sering kali berakibat pada kobaran konflik atas nama agama. Dan sebaliknya, bisa juga ada orang yang cerdas secara spiritual sejauh orang tersebut memiliki kesadaran, dengan sikap jujur dan terbuka, inklusif, dan bahkan pluralis dalam beragama di tengah pluralitas agama.
            Belakangan ini, riset SQ memang sedang ramai – ramainya, terutama pada penerbitan buku – buku psikologi spiritual yang lumayan membantu kita meningkatkan kecerdasan spiritual dalam diri kita. Beberapa contoh buku tentang kecerdasan spiritual, antara lain :
SQ, Spiritual Intellegence, The Ultimate Intellegence karya Danah Zohar dan Ian Marshall.
Spritual Intellegence, Awakening The Power of Your Spirituality and Intuition karya Michael Levin.
Spiritual Intellegence : A practical Guide to Personal Happiness karya Prof. Dr. Khalil A. Khavari.
Spiritual Intellegence Handbook karya Paul Edward.
Spiritual Intellegence : What We Can Learn from the Early Awekening Child karya Dr Marsha Sinetar.
Spiritual Intellegence : How It Can Transform Your Life karya Dr. Hendry Wild.
Spiritual Intellegence karya Richard Wolman.
Spiritual Intellegence : A Special Issue of International Journal for the Psycholocy of Religion karya Raymond F Palouttzion.
www.spritualintellegence.com merupakan situs guna meakses wacana kecerdasan spiritual.
            Kehadiran buku – buku kecerdasan spiritual perlu kita sambut dengan gembira. Tapi, kenapa buku – buku SQ ini malah lahir di Dunia Barat yang sekuler? Yang justru dipelopori oleh orang – orang sekuler barat bukan tokoh dan pakar agama. Ini menandakan suatu turning point, dimana pada saat perkembangan psikologi manusia sedang cenderung mengarah ke suatu yang serba sekuler dan material, terjadilah arus balik ( turning point ) ke arah psikologi ketuhanan, yang tak lain dan tak bukan adalah psikologi kecerdasan spiritual itu sendiri, yang lebih berkiblat pada kerohanian sebagai hatinya psikologi.
            Bagaiman halnya dengan struktur kecerdasan dalam perspektif psikologi spiritual saat ini? Sadar atau tidak, potensi kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) itu ada dalam diri kita sebagai manusia. IQ berada di wilayah otak (brain) kita, yang karenanya terkait dengan kecerdasan otak, rasio, nalar – intelektual. EQ mengambil wilayah di sekitar emosi diri kita, yang karenanya lebih mengembangkan emosi supaya menjadi cerdas, tidak cenderung marah. Sedangkan, SQ mengambil tempat di seputar jiwa, hati ( yang merupakan wilayah spirit ) yang karenanya dikenal sebagai the soul’s intelligence, kecerdasan jiwa, hati, yang menjadi hakikat sejati kecerdasan spiritual. Struktur kecerdasan antara IQ, EQ, dan SQ itu sendiri dapat diringkas dalam model struktur kecerdasan seperti tergambar di bawah ini.
Struktur Kecerdasan :
IQ, EQ, SQ

No
Perspektif
Jenis Kecerdasan
IQ
EQ
SQ
1
Psikologi modern
Otak (mind)
Emosi (body)
Jiwa (soul)
2
Model Berpikir
Seri
Asosiatif
Intuitif
3
Al-Qur’an
‘Aql
Nafs
Qalb
4
Kebahagiaan
Material
Instingtif
Rohaniah
5
Produk kecerdasan
Rasional
Emosional
Spiritual



BAB III KEUNGGULAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)

            Menurut Daniel Goleman (ahli psikologi Harvard University) ada 6 alasan kenapa SQ lebih penting daripada IQ dan EQ, yakni :
1.      Segi perenial SQ
2.      Mind-body-soul
3.      Kesehatan spiritual
4.      Kedamaian spiritual
5.      Kebahagiaan spiritual
6.      Kearifan spiritual
Berikut ini bisa dijelaskan 6 alasan tersebut.
1.      Segi Perenial SQ
SQ mampu mengungkap segi perenial ( yang abadi, yang asasi, yang spiritual, yang fitrah ) dalam struktur kecerdasan manusia. SQ adalah pondasi yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan SQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.
2.      Mind -  Body – Soul
Para ilmuwan sepakat bahwa manusia, disamping terdiri atas pikiran (mind) dan badan – tubuh (body), juga menjadi “ada” dan “hidup” karena ada faktor kunci yaitu soul (jiwa,spirit,roh)
3.      Kesehatan Spiritual
SQ bukan saja menyentuh segi spiritual kita, melainkan lebih dari itu : menyajikan beragam resep, mulai dari pengalaman spiritual sampai penyembuhan spiritual, sehingga kita benar – benar mengalami kesehatan spiritual. Hal ini sebagai jawaban  atas penyakit jiwa – spiritual yang saat ini banyak diderita manusia modern yang tidak bisa diperoleh dari IQ dan EQ.
4.      Kedamaian Spiritual
SQ membimbing kita untuk memperoleh kedamaian spiritual. Inilah kedamaian hakiki dalam hidup kita, yang tentu saja tidak diperoleh melalui IQ maupun EQ. Sehingga SQ merupakan jalan untuk meraih kedamaian spiritual.
5.      Kebahgiaan Spiritual
Kebahagiaan sejati justru terletak pada kebahagiaan spiritual : suatu kebahagiaan yang membuat hati dan jiwa kita menjadi bahagia, tentram, dan penuh kedamaian. Karena selama ini IQ dan EQ tidak hanya cenderung memenuhi segi kepuasan dan emosional saja, tapi juga berlanjut pada keinginan besar untuk mengejar kepuasan material (uang, kerja, jabatan) dan nafsu emosional.
6.      Kearifan Spiritual
Kearifan spiritual adalah sikap hidup arif dan bijak secara spiritual. Spiritual itu tak lain dan tak bukan adalah kebenaran, kedamaian, kesucian, kasih, kebahagiaan, kekuatan, dan kearifan di dalam kehidupan.

Danah Zohar dan Ian Marshall memberikan 8 elemen untuk menguji secara awal sejauh mana kecerdasan spiritual kita. Barometer kepribadian yang dipakai meliputi :
1)      Kapasitas diri untuk bersikap fleksibel, seperti aktif dan adaptifsecara spontan.
2)      Level kesadaran diri yang tinggi.
3)      Kapasitas diri untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
4)      Kualitas hidup yang terinspirasi dengan visi dan nilai – nilai.
5)      Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
6)      Memiliki cara pandang yang holistik, dengan memiliki kecenderungan untuk melihat keterkaitan di antara segala sesuatu yang berbeda.
7)      Memiliki kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa” atau “bagaiman jika” dan cenderung untuk mencari jawaban – jawaban yang fundamental (prinsip, mendasar)
8)      Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Selain itu, Prof. Khalil A. Khavari juga memberikan rumusan tes untuk menguji kecerdasan spiritual. Menurut Khavari, test kecerdasan spiritualnya ini tidak mendefenisikan secara sempurna kualitas SQ, tapi paling tidak dapat membantu kita untuk mendapatkan pegangan lebih baik mengenai tes SQ itu sendiri. Jika nilai total yang diperoleh mencapai seratus, menandakan memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang luar biasa.

Daftar Pertanyaan Tes SQ
No
Daftar Pertanyaan
Nilai
1


2


3


4


5


6


7


8


9


10


11


12


1


31


4


15


16


17


18


19


20


21


22


23


24


25



Keterangan :  1≤ nilai ≤ 4 dengan
                       4 = selalu
                       3 = sering
                       2 = kadang-kadang
                       1 = tidak pernah
Tes SQ ini, jika kita amati secara cermat ada 3 alasan yang menjadikannnya luar biasa yakni :
a)      Dari sudut pandang spiritual-keagamaan, tes itu merepresentasikan sejauh manakah tingkat relasi spiritual kita dengan Tuhan
b)      Dari sudut pandang relasi sosial-keagamaan, tes di atas menggambarkan potret sosial-keagamaan kecerdasan spiritual artinya kecerdasan spiritual harus terefleksikan pada sikap-sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial
c)      Dari sudut pandang etika-sosial, tes tersebut juga dapat menggambarkan tingkat etika sosial kita sebagai cermin kadar kualitas kecerdasan spiritual.

Kita dapat menajamkan kecerdasan spiritual kita dengan asumsi dasar bahwa potensi spiritual sudah hadir dan bersemayam dalam diri kita, setiap manusia, apapun agama dan identitasnya. Hadis Nabi Muhammad SAW  intinya menyatakan bahwa” setiap anak dilahirkan fitrah (suci)”. Banyak cara untuk menajamkan SQ, tapi semuanya tergantung pada “siapa kita”. Mari kita lihat beberapa kategori berikut :
a.       Kategori agamawan
SQ lebih tinggi bisa didapatkan jika penghayatan terhadap agama lebih dalam lagi ke esensinya, ke spiritualnya. Semuanya ini akan melahirkan sikap hidup terbuka, toleran, inklusif, bahkan pluralis.
b.      Katagori Pendidik
Pendidikan spiritual yang dapat menajamkan kualitas kecerdasan spiritual, baik terhadap diri kita sebagai pendidik maupun peserta didik, adalah nilai-nilai spiritual itu yang diterapkan dalam pendidikan kita melaui sikap keteladanan dalam mengajatkan pendidikan spiritual. Nilai-nilai yang dimaksud adalah kejujuran, keadialn, kebajikan, kebersamaan, kesetiakawanan sosial, dll.
c.       Kategori anak
Potensi dan bakat kecerdasan spiritual dimilki oleh anak sejak usia dini. Potensi – potensi pembawaan spiritual pada anak-anak seperti keberanian, optimisme, keimanan, empati, sikap memaafkan, dan bahkan ketangkasan dalam menghadapi amarah dan bahaya.

Anak-anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, dicirikan sebagai berikut :
1.      Kesadaran diri yang mendalam, intuisi, dan kekuatan “keakuan”
2.      Pandangan luas terhadap dunia
3.      Moral tinggi, pendapat yang kokoh, dan kecenderungan untuk merasa gembira
4.      Pemahaman tentang tujuan hidupnya
5.      “Kelaparan yang tak dapat dipuaskan” akan hal-hal tertentu yang diminati
6.      Gagasan-gahasan segar dan aneh ; rasa humor yang dewasa
7.      Pandangan pragmatis dan efisien tentas realitas
d.      Kategori Aktivis
Sebagai aktivis, SQ dapat kita tajamkan melalui “ketulusan niat suci” dan “hati yang tulus” untuk melakukan kritik sosial, keagamaaan, dan politik. SQ ini sendiri berporos pada dua misi suci yaitu tindakan kemanusiaan sebagai refleksi dan pantulan misi ketuhanan.
e.       Kategori Pengusaha
Menjadi cerdas secara spiritual dalam kesuksesan di dunia bisnis, mutlak dengan mengamalkan nilai-nilai mistik-spiritual SQ. Dalam sebuah tesis The Corporate Mystics oleh Hendricks dan Kate Ludeman mengamalkan 12 karakteristik penting bagi pemimpin yang sukses di abad ke-21 di dunia bisnis dan perusahaan besar, yang 5 di antarnya adalah :
1)      mutlak jujur
2)      Keterbukaan
3)      Pengetahuan diri
4)      Fokus pada kontribusi
5)      Spiritualitas non-dogmatis

f.       Kategori Politik
Untuk menajamkan SQ di kalangan politisi adalah dengan menjadikan Spritual Politics sebagai panduan  untuk menjalani politik secara santun dan beradab. Selain itu dengan menerapkan politik yang tidak membunuh, yang sarat cinta kasih, kejujuran, koordinasi, lebih santun, dan beradab.
g.      Kategori Lain
Jika kita berada di luar kategori-kategori di atas, SQ bisa ditajamkan dengan senantiasa berpijak pada nilai moral-spiritual-kemanusiaan sebagai pengarah nilai. Serta menjadikan daftar kebajikan sebagai panduan untuk menjalani apapun profesi kita, sejauh berada pada koridor nilai moral-spiritual-kemanusiaan yang benar dan beradab.
Menurut Sukidi, staf pengajar di Paramadina, memberikan langkah-langkah untuk mengasah dan meningkatkan SQ agar mencapai derjat yang tinggi, yaitu :
·         Kenalilah diri sendiri
·         Lakukan instropeksi diri
·         Aktifkan hati secara rutin
·         Temukan keharmonisan dan ketenangan hidup

BAB IV KECERDASAN SPIRITUAL : RAHASIA SUKSES HIDUP BAHAGIA
   Faktor-faktor apa saja yang menjadikan hidup kita menjadi lebih bahagia dan lebih bermakna ? Kebahagiaan model apa saja yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini ? Sudahkah selama ini kita merasa bahagia  dalam menjalani kehidupan di dunia ini ? Itulah beberapa pertanyaan besar yang menyelimuti kehidupan dewasa ini di tengah kegersangan dan kegalauan hidup di dunia modern. Hanya dengan SQ membimbing kita untuk meraih kebahagiaan hidup hakiki yang merupakan tujuan hidup.
Dalai Lama, peraih nobel perdamaian  dan dikenal di dunia sebagai pendekar spiritual sejati dari Tibet memaparkan fenomena saat ini, menurut Lama,

“Kini ada masyarakat yang secara materi sangat maju, tetapi di antara mereka banyak orang yang sangat tidak bahagia. Di balik permukaan yang di luar permukaan tampak indah itu, semacam ada pergolakan mental, yang membuat mereka frustasi, menyulut pertengkaran yang tidak perlu, ketergantungan pada obat dan alkohol, dan yang paling buruk bunuh diri. Maka tidak ada jaminan bahwa kekayaan saja dapat memberi Anda kebahagiaan…”

Agar kita dapat mengoptimalkan secara maksimal ke arah sasaran sejati hidup bahagia, kecerdasan spiritual menyingkap rahasia sukses meraih hidup bahagia yang lebih hakiki dan spiritual. Survei, statistik, dan studi ilmiah di atas sudah lebih dari cukup untuk berkesimpulan bahwa kecerdasan spiritual ternyata menghasilkan orang-orang spiritual yang tidak saja tangguh dan cakap dalam ujian hidup, melainkan juga dapat meraih sukses hidup bahagia dengan itu.

“Banyak studi telah menemukan bahwa selain membuat orang merasa sejahtera, iman yang teguh tampaknya juga memudahkan orang mengatasi masalahnya secara lebih efektif, misalnya masalah usia lanjut, krisis kepribadian, atau peristiwa-peristiwa traumatik.”
“Selain itu, statistik menunjukkan bahwa keluarga-keluarga dengan keyakinan agama yang kuat sering mempunyai peringkat lebih rendah dalam kasus-kasus kenakalan remaja, penyalahgunaan alkohol dan obat, dan keributan rumah tangga.”

“Ada pula bukti yang menunjukkkan bahwa iman keagamaan bisa bermanfaat bagi kesehatan manusia- bahkan mereka yang menderita penyakit serius.”

“Sesungguhnyalah, ada ratusan studi ilmiah dan epidemiologi yang mengukuhkan hubungan antara iman yang kuat, rendahnya angka kematian, dan meningkatnya kesehatan.”

“Dalam sebuah studi, wanita usia lanjut dengan kepercayaan keagamaan yang kuat mampu berjalan lebih jauh sehabis operasi pinggul dibanding mereka yang tidak atau kurang beriman, dan mereka juga tidak begitu menderita sesuai operasi.”

“Dalam sebuah studi lain, yang dilakukan oleh Dr.Thomas Oxman dan para sejawatnya di Dartmouth Medical School, ada penemuan bahwa pasien-pasien dengan usia lebih lima puluh tahun yang menjalani operasi bypass jantung akibat tersumbatnya arteri koroner atau kerusakan katup jantung dan berlindung dalam keyakinan keagamaan tiga kali lebih mungkin bertahan hidup dibanding denganmereka yang kurang takwa.”

Survei, statistik, dan studi ilmiah di atas sudah lebih dari cukup untuk berkesimpulan bahwa kecerdasan spiritual ternyata menghasilkan orang-orang spiritual yang tidak saja tangguh dan cakap dalam ujian hidup, melainkan juga dapat meraih sukses hidup bahagia dengan itu.
Ada 3 kunci praktis dalam meraih sukses hidup bahagia secara spiritual yaitu :
1.      Love (Cinta)
Cinta dalah perasaan yang lebih menekankan kepekaan emosi dan sekaligus menjadi energi kehidupan. Menurut Prof. Khalil A. Khavari menafsirkan energi cinta ke dalam dua aliran : positive love (cinta positif) dan negative love (cinta negatif). “Cinta positif” mengalir secra konstruktif dan dipersembahkan untuk kebajikan. Sementara “cinta negatif’ berlangsung secara destruktif dan diinventarisasikan pada kerja-kerja buruk.
Lebih lanjut Khavari mengelompokkan cinta menjadi 7 kategori yakni cinta diri sendiri, cinta rakyat, cinta pada situasi dan kondisi, cinta pada sesuatu, cinta pada binatang, cinta pada penciptaan, dan cinta pada Tuhan. Dan menurut John Powel dalam The Secret of Staying in Love meneguhkan pandangan di atas dengan rumusannya yang sangat menarik,

“Perjalanan menuju cinta adalah perjalanan menuju hidup penuh bahagia. Sebab, hanya orang yang mengalami cinta mengenali sendiri; dapat mencintai dirinya sebagaimana adanya kini dan pada masa mendatang, dapat menemukan kepenuhan hidup yang merupakan keluhuran Tuhan. Sebab Tuhan adalah cinta, maka hanya dengan cinta orang dapat menemukan alasan untuk hidup bahagia selama-lamanya.”

Jadi kunci kecerdasan spiritual untuk meraih kebahagiaan spiritula didasarkan pada cinta kepada Sang Pencipta. Cinta kepada Tuahn akan menjadikan hidup kita bermakna dan bahagia secar spiritual terutama bagi pecinta.
2.      Prayer (Doa)
Doa merupakan bentuk komunikasi spiritual ke hadirat Tuhan. Karena itu manfaat terbesar doa terletak pada penguatan cinta ke hadirat Tuhan dengan jalan doa. Kekuatan spiritual itulah yang antara lain terletak pada kekuatan doa. Maka kemudian, secara luas dipakai dalam praktek penyembuhan spiritual, yang terbukti memiliki manfaat sebagai :
a.       Doa dapat mempertinggi sistem kekebalan tubuh
b.      Doa bisa meringankan sakit, sekaligus mencegah penyakit dari sakit yang lebih berat.
c.       Doa meningkatkan seseorang untuk melatih keberanian
d.      Doa memperkaya horizon sesesorang sehingga mampu melampaui penderitaan darurat, menuju masa depan yang bebas dari beban psikis dan penderitaan.

Prof. Khavari juga memilah tingkatan doa yang jauh berkualitas dalam meraih hidup bahagia secara spiritual, yaitu :
a.       Doa sebagai ungkapan rasa syukur dan kepuasan hati
b.      Doa sebagai proteksi, terutama proteksi diri kita dari segala membuat kita jatuh pada titik kemanusiaan terendah
c.       Doa untuk yang lain. Karena kita adalah makhluk spiritual yang berhubungan dengan yang lain karena semata-mata didasarkan pada ikatan spiritual.

3.      Virtues (Kebajikan)

No
Daftar Kebajikan Sebagai Petunjuk
1
Bersikap Tegas
2
Bersikap hati- Hati
3
Kebersihan
4
Terharu
5
Memiliki Percaya Diri
6
Penuh Pertimbangan
7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51